Badan Ekonomi Kreatif

July 31, 2018

Indonesia dengan potensi kekayaan yang sangat besar baik potensi sumberdaya alam, keragaman budaya, maupun sumberdaya manusia, perlu mengedepankan kreativitas dan inovasi dalam pembangunan nasional untuk mengoptimalkan berbagai potensi kekayaan yang dimilikinya. Ekonomi kreatif yang berbasis kepada modal kreativitas sumberdaya manusia, berpeluang mendorong daya saing bangsa Indonesia di masa depan. Jika sumberdaya manusia Indonesia yang jumlahnya sangat besar memiliki kemampuan untuk berkreasi untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah, maka kreativitas tersebut akan menjadi sumberdaya terbarukan yang tidak ada habisnya. Kreativitas akan mendorong dihasilkannya produk-produk manufaktur dan jasa yang inovatif dan bernilai tambah tinggi sehingga kelak Indonesia tidak akan lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi juga akan mampu mengekspor produk yang bernilai tambah tinggi. Kreativitas dan inovasi juga akan menjadikan warisan budaya dan kearifan lokal berkontribusi besar tidak hanya bagi perekonomian nasional namun juga bagi peningkatan citra bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

Untuk mensosialisasikan rencana kebijakan dan program pemerintah, saat ini dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif, mensosialisasikan kebijakan pembiayaan bagi pengembangan industri kreatif, menjaring isu, permasalahan, dan hambatan terkini dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif sebagai masukan bagi perumusan kebijakan, serta mensosialisasikan best practices dan success story dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif dari negara lain dan pelaku usaha. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing KUKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bekerjasama dengan Fakultas Industri Kreatif Telkom University menyelenggarakan seminar yang bertema “Ekonomi Berbasis Kreativitas dan Inovasi sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia” bertempat di Universitas Telkom, Bandung (07/09). Seminar ini dihadiri oleh sejumlah Kementerian/Lembaga terkait, pelaku industri kreatif, pemerintah kabupaten dan kota, serta civitas akademika Universitas Telkom.

Hadir dalam seminar tersebut yakni Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya saing KUKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin; Wakil Rektor III Universitas Telkom, Dr. Ama Suyanto, MBA.; Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University Dr. Ir. Agus Achmad Suhendra, MT. Selain itu, turut hadir dari para pelaku industri kreatif. Seperti dari Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Josep Pesik; Direktur Pengembangan Usaha Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir Kementerian KUKM, Asep Adipurna; Join Secretariat for Economic Development of Indonesia and Korea, Mr. Yoonsung Shin PhD; Ketua STMIK AMIKOM Yogjakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, MM; Sekretaris Jenderal Game Developer Indonesia, Robbi Baskoro; dan Director Tender Indonesia, Tito Loho.

Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, Deputi Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam keynote speech-nya menegaskan pemerintah akan terus memegang komitmen untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Hal itu dilakukan karena pemerintah menyadari besarnya potensi ekonomi kreatif untuk berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja dan nilai ekspor. Pada tahun 2013 ekonomi kreatif mampu berkontribusi 7,05 persen terhadap PDB Nasional, menyerap 11,91 juta tenaga kerja atau 11 persen dari total tenaga  kerja nasional, serta menciptakan 5,4 juta usaha kreatif yang sebagian besar adalah UKM. Kontribusi tersebut disumbangkan oleh 15 sub-sektor industri kreatif. Pemerintah menargetkan peningkatan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB dari 7,1 persen pada 2014 menjadi 12 persen pada 2019. Begitu juga serapan tenaga kerja bisa meningkat dari 12 juta menjadi 13 juta orang dan nilai ekspornya naik dari 5,8 persen menjadi 10 persen. Berakhirnya era commodity boom menjadikan peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan ekonomi kreatif.

 Dr. Agus Achmad Suhendra, Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University dalam paparannya menyarankan dua pendekatan utama dalam pengembangan ekonomi kreatif nasional, yaitu pendekatan kolaborasi nasional, yakni kolaborasi antara sektor industri, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif; serta pendekatan strategic focus, yaitu pemerintah harus berani menetapkan fokus pengembangan indstri kreatif baik dalam hal penetapan fokus sektor industri maupun kawasan-kawasan berbasis kreativitas yang akan dikembangkan.

 Sejalan dengan rekomendasi tersebut, Ricky Joseph Pesik Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyampaikan bahwa BEKRAF akan memfokuskan pengembangan ekonomi kreatif pada tiga sub sektor utama, yaitu sub sektor film yang merupakan sektor yang populer saat ini, aplikasi yang memiliki potensi besar di masa yang akan datang, dan musik sebagai sektor yang sifatnya universal. Ketiga sektor ini dipercaya dapat mendongkrak perkembangan subsektor industri kreatif lainnya seperti desain komunikasi visual, seni pertunjukan, animasi, fashion, dan lain-lain. Selain itu terdapat 2 sub sektor lainnya yang sudah siap didorong untuk mendunia yaitu sektor kuliner dan kriya yang secara infratruktur, produktivitas, dan skala ekonomi sudah cukup besar. Dukungan yang masih dibutuhkan kedua sub sektor ini ialah pemasaran dan pencitraan (branding) yang kuat.

Ricky Josep Pesik tak menampik jika potensi subsektor ekonomi kreatif Indonesia sangat luas. Hal itu pun sempat membuat Bekraf kesulitan menyusun rencana besar pengembangan industri kreatif negeri ini. Menurut Ricky, desain saja di Indonesia terbagi dalam 3 subsektor terpisah yaitu desain interior, desain komunikasi visual dan desain produk. “Padahal di Inggris ada 9 jenis desain yang digabungkan menjadi 1 subsektor,” ucapnya.

Asep Adipurna, Staf Khusus Direksi Pengembangan Usaha Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir Kementerian KUKM dalam paparannya menyampaikan bahwa LPDB UKM telah bersentuhan dengan industri kreatif sejak tiga tahun yang lalu dan memberikan dukungan permodalan kepada koperasi atau UKM di sektor industri kreatif yang pada umumnya bersifat feasible but not bankable.

Mr. Yoonsung Shin PhD dari Joint Secretariat  for Economic Development  of Indonesia and Korea memberikan pengalaman pengembangan industri konten (content industry) di Korea yang dimotivasi pengembangannya oleh rendahnya trend pertumbuhan ekonomi dan tingginya pengangguran anak muda di negara tersebut. Pada periode 2009-2013, penjualan produk  industri konten di Korea mencapai pertumbuhan rata-rata 8 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh perkembangan K-pop dalam industri musik global, perkembangan industri permainan online, serta perkembangan industri film dan animasi. Mr. Shin merekomendasikan kerjasama diantara dua negara dalam pengembangan industri konten diantaranya dalam hal pendanaan dan perlindungan hak cipta.

Prof. M. Suyanto menyampaikan paparan tentang peluang perkembangan industri animasi di pasar global serta potensi besar Indonesia untuk berperan besar dalam percaturan industri animasi dunia. Keberhasilan film “Battle of Surabaya” menembus pasar dunia, dimana trailer film ini meraih sejumlah penghargaan internasional yaitu Most People’s Choice Award IMTF (International Movie Trailer Festival)2013 dan Nominee Best Foreign Animation Award 15th Annual Golden Trailer Award 2014, menandai dimulainya langkah besar industri film animasi Indonesia di pasar global. Pada tahun 2025, Indonesia diharapkan dapat berperan menjadi salah satu pusat industri film animasi kelas dunia.

Robbi Baskoro menyampaikan peluang besar Indonesia dalam mengembangkan Industri game, dimana perkembangannya saat ini sangat pesat yang dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi telepon seluler, internet, dan penggunaan media sosial. Jumlah pengguna game online di Indonesia saat ini tercatat sebesar 52,5 juta orang. Sejumlah produk game online buatan developer lokal telah mampu menembus di pasar global dan dimainkkan oleh ratusan juta orang di seluruh dunia. Kondisi ini menunjukkan kemampuan produk Indonesia berkompetisi di pasar industri game global yang memiliki market sharediperkirakan sebesar USD 181 juta dolar.

Perpres Nomor 72 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif telah mengklasifikasi ulang sub-sektor industri kreatif dari 15 sub-sektor menjadi 16 sub-sektor, yaitu arsitektur; desain interior; desain komunikasi visual; desain produk; film, animasi, dan video; fotografi; kriya; kuliner; musik; fashion; aplikasi dan game developer; penerbitan; periklanan; televisi dan radio; seni pertunjukan; dan seni rupa. Kontribusi 15 sub-sektor industri kreatif terhadap proporsi PDB tahun 2014, yang menunjukkan bahwa industri kuliner merupakan sub sektor dengan kontribusi PDB terbesar yaitu sebesar 32%. Sedangkan hasil analisa kuadran dengan menggunakan variabel tingkat pertumbuhan PDB dan proporsi terhadap PDB menunjukan bahwa industri fashion merupakan industri yang paling tinggi tingkat pertumbuhan dan proporsinya terhadap PDB. Sedangkan industri layanan komputer dan perangkat lunak; periklanan; arsitektur; riset dan pengembangan; fotografi, film, dan video; radio dan televisi; serta permainan interaktif, meskipun proporsinya terhadap PDB masih rendah, namun mencatat tingkat pertumbuhan tinggi sehingga potensial untuk dikembangkan

Pengembangan ekonomi kreatif saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan hambatan. Rencana Induk Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia menuju 2025 mengidentifikasi tujuh isu utama yang menjadi tantangan bagi perkembangan ekonomi kreatif, yaitu sumberdaya manusia kreatif, bahan baku, daya saing industri, pembiayaan, pasar, infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan dan iklim usaha.

Di tengah tantangan perekonomian global yang semakin besar, pemerintah tengah berupaya mendorong berkembangnya industri kreatif menjadi sektor strategis yang mampu berperan lebih besar dalam perekonomian nasional dalam hal kontribusi terhadap PDB, penciptaan lapangan pekerjaan, dan ekspor. Sejumlah terobosan kebijakan telah dilakukan, diantaranya telah diprioritaskannya pengembangan ekonomi kreatif dalam RPJM Nasional 2015-2019 serta telah dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif sebagai lembaga yang akan mengawal pengembangan ekonomi kreatif secara khusus.

Pemerintah telah menetapkan pengembangan ekonomi kreatif sebagai bagian dari agenda prioritas nasional, serta membentuk BEKRAF untuk mengawal perkembangan ekonomi kreatif. Untuk mewujudkan ekonomi kreatif sebagai kekuatan ekonomi baru Indonesia, pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia dalam jangka panjang diarahkan tidak hanya untuk menumbuh kembangkan industri kreatif tetapi lebih jauh lagi mampu mengarusutamaan kreativitas dan inovasi di setiap sektor dan kehidupan bermasyarakat. Pencarian solusi terhadap berbagai permasalahan atau potensi yang ada di berbagai sektor prioritas pembangunan nasional perlu dilakukan secara kreatif, inovatif dan dapat dijawab oleh industri kreatif ataupun kolaborasi antara berbagai industri kreatif, untuk dapat menciptakan daya saing global dan kualitas hidup bangsa Indonesia.