Market Segmentation Analysis: Cara Menentukan Segmen Konsumen yang Paling Bernilai bagi Bisnis

oleh Admin Aug 22, 2026 Market

Market Segmentation Analysis: Cara Menentukan Segmen Konsumen yang Paling Bernilai bagi Bisnis

Jasa market research membantu perusahaan memahami perbedaan karakteristik, kebutuhan, perilaku, dan nilai ekonomi antar kelompok konsumen. Sementara jasa sebar kuisioner dapat digunakan untuk memperoleh data primer yang menjadi dasar dalam membentuk segmentasi pasar secara lebih objektif.

Salah satu kesalahan paling umum dalam strategi pemasaran adalah menganggap:

semua customer memiliki kebutuhan yang sama.

Padahal, dua konsumen yang membeli produk yang sama:

belum tentu memiliki alasan pembelian yang sama.

Konsumen A mungkin memilih karena:

harga.

Konsumen B karena:

kualitas.

Konsumen C karena:

convenience.

Konsumen D karena:

brand prestige.

Jika seluruh customer diperlakukan:

dengan satu strategi,

perusahaan berisiko:

kehilangan peluang untuk mengoptimalkan value dari masing-masing segmen.

Karena itu, pertanyaan strategisnya bukan sekadar:

"Siapa customer kita?"

Tetapi:

"Kelompok customer mana yang memiliki kebutuhan serupa, perilaku yang serupa, dan nilai ekonomi yang paling menarik bagi perusahaan?"

Inilah inti dari:

market segmentation analysis.

Apa Itu Market Segmentation?

Market segmentation adalah proses:

membagi pasar yang heterogen menjadi kelompok konsumen yang memiliki karakteristik atau kebutuhan yang relatif serupa.

Tujuannya bukan membuat:

sebanyak mungkin kelompok.

Tujuan sebenarnya adalah:

menemukan kelompok yang dapat dilayani dengan strategi yang berbeda dan lebih efektif.

Segmentasi yang baik membantu perusahaan menjawab:

  • siapa target utama;
  • apa kebutuhan mereka;
  • apa purchase driver mereka;
  • berapa willingness to pay;
  • bagaimana cara menjangkau mereka;
  • seberapa besar nilai ekonominya.

Mengapa Segmentasi Tidak Cukup Berdasarkan Demografi?

Pendekatan tradisional sering menggunakan:

  • usia;
  • gender;
  • pendapatan;
  • pekerjaan;
  • lokasi.

Data tersebut memang berguna.

Namun:

demographic similarity tidak selalu berarti behavioral similarity.

Dua orang berusia 30 tahun:

dapat memiliki kebutuhan dan perilaku pembelian yang sangat berbeda.

Karena itu, market segmentation modern semakin menggabungkan:

demographic + psychographic + behavioral + economic variables.

Demographic Segmentation

Segmentasi demografis menggunakan:

  • age;
  • gender;
  • income;
  • occupation;
  • education;
  • household size.

Keunggulannya:

mudah diukur.

Namun kelemahannya:

belum tentu menjelaskan alasan customer membeli.

Geographic Segmentation

Customer dibagi berdasarkan:

  • negara;
  • provinsi;
  • kota;
  • wilayah urban/rural;
  • lokasi operasional.

Geographic segmentation penting ketika:

kebutuhan dipengaruhi kondisi wilayah.

Contohnya:

produk tertentu lebih relevan di kota besar daripada wilayah rural.

Psychographic Segmentation

Psychographic segmentation melihat:

  • lifestyle;
  • values;
  • personality;
  • interests;
  • attitudes.

Dua customer dengan:

income sama

dapat memiliki:

willingness to pay yang berbeda

karena:

value dan lifestyle mereka berbeda.

Behavioral Segmentation

Behavioral segmentation menggunakan:

  • purchase frequency;
  • purchase occasion;
  • brand loyalty;
  • usage;
  • product adoption;
  • promotion response.

Pendekatan ini sering:

lebih dekat dengan actual business behavior.

Economic Segmentation

Dalam perspektif ekonomi, perusahaan juga perlu melihat:

economic value setiap customer.

Misalnya:

  • average spending;
  • purchase frequency;
  • margin;
  • retention;
  • customer lifetime value.

Segmen dengan jumlah customer kecil:

dapat memiliki value lebih tinggi

dibandingkan segmen dengan jumlah customer besar.

Segment Size vs Segment Value

Ini merupakan salah satu prinsip penting.

Segmen:

1 juta customer

belum tentu lebih menarik daripada segmen:

100.000 customer.

Jika segmen kedua memiliki:

CLV lebih tinggi,

maka secara ekonomi:

dapat lebih attractive.

Customer Lifetime Value

CLV membantu mengestimasi:

nilai ekonomi customer selama hubungan dengan perusahaan.

Secara konseptual:

CLV ≈ Average Revenue × Purchase Frequency × Customer Lifetime × Margin

Perhitungan aktual dapat jauh lebih kompleks karena mempertimbangkan discount rate, retention, CAC, dan variable cost.

Namun konsep dasarnya:

customer value tidak berhenti pada satu transaksi.

Segmentation dan Profitability

Segmentasi sebaiknya tidak hanya menghasilkan:

"customer A berbeda dari customer B."

Tetapi:

"customer A lebih profitable karena memiliki frequency tinggi, churn rendah, dan margin tinggi."

Ini membuat segmentasi:

lebih actionable.

Need-Based Segmentation

Salah satu pendekatan paling strategis adalah:

membagi customer berdasarkan kebutuhan.

Misalnya:

Price Seekers

mencari harga terendah.

Quality Seekers

mencari kualitas terbaik.

Convenience Seekers

mengutamakan kemudahan.

Premium Seekers

mencari experience dan prestige.

Segmentasi ini:

langsung dapat digunakan untuk product positioning.

Benefit Segmentation

Customer dapat dibagi berdasarkan:

benefit yang mereka cari.

Misalnya:

speed.

durability.

affordability.

prestige.

safety.

Perusahaan dapat:

menyesuaikan value proposition dengan benefit tersebut.

Occasion-Based Segmentation

Kebutuhan customer dapat berubah:

berdasarkan occasion.

Contohnya:

weekday vs weekend.

routine vs special occasion.

personal vs business use.

Karena itu:

satu customer dapat berada pada beberapa behavioral context.

Usage-Based Segmentation

Customer dapat dikelompokkan berdasarkan:

  • heavy user;
  • medium user;
  • light user;
  • non-user.

Heavy user:

biasanya memiliki potensi CLV lebih tinggi.

Namun:

tidak selalu paling profitable.

Loyalty Segmentation

Customer dapat dibagi menjadi:

  • loyal;
  • switcher;
  • occasional;
  • inactive.

Switcher:

memiliki risiko churn lebih tinggi.

Loyal customer:

dapat menjadi sumber repeat revenue dan referral.

Price Sensitivity Segmentation

Customer juga dapat dikelompokkan berdasarkan:

sensitivitas terhadap perubahan harga.

Misalnya:

Highly Price Sensitive

mudah berpindah ketika harga naik.

Moderately Sensitive

mempertimbangkan value.

Low Price Sensitive

lebih fokus pada quality dan experience.

Segmentasi ini:

penting untuk pricing strategy.

Promotion Sensitivity

Tidak semua customer:

responsif terhadap diskon.

Ada customer yang:

hanya membeli ketika promo.

Ada pula yang:

tetap membeli tanpa promo.

Perusahaan dapat menggunakan data ini untuk:

mengoptimalkan promotional budget.

Segmentasi Berdasarkan Purchase Driver

Customer dapat dikelompokkan berdasarkan:

faktor utama yang memengaruhi pembelian.

Contohnya:

SegmentPrimary DriverSecondary Driver
APricePromotion
BQualityBrand
CConvenienceSpeed
DExperienceBrand

Hasil ini:

lebih actionable daripada sekadar segmentasi usia.

Mengapa Purchase Driver Penting?

Karena strategi:

harus mengikuti alasan customer membeli.

Jika segment:

price-driven,

maka:

pricing dan promotion

menjadi penting.

Jika segment:

quality-driven,

maka:

product quality dan proof

lebih relevan.

Segment Heterogeneity

Pasar bersifat:

heterogeneous.

Artinya:

customer memiliki utility function yang berbeda.

Apa yang memberikan utility tinggi kepada customer A:

belum tentu memberikan utility yang sama kepada customer B.

Utility Differences

Customer A mungkin:

lebih menghargai harga.

Customer B:

lebih menghargai convenience.

Customer C:

lebih menghargai prestige.

Karena itu:

optimal strategy dapat berbeda antarsegmen.

Segmentation sebagai Masalah Resource Allocation

Perusahaan memiliki:

resource terbatas.

Misalnya:

  • marketing budget;
  • sales capacity;
  • product development;
  • distribution.

Tidak mungkin:

semua segmen dilayani secara maksimal.

Karena itu:

segmentasi membantu menentukan ke mana resource dialokasikan.

Target Market Selection

Setelah segmentation:

tahap berikutnya adalah targeting.

Perusahaan harus menentukan:

segmen mana yang paling layak diprioritaskan.

Segment Attractiveness

Segmen dapat dinilai berdasarkan:

  • size;
  • growth;
  • profitability;
  • accessibility;
  • competition;
  • WTP;
  • strategic fit.

Segment Growth

Segmen kecil saat ini:

dapat menjadi sangat menarik

jika:

pertumbuhannya tinggi.

Karena itu:

growth rate perlu dianalisis.

Segment Profitability

Segment profitability dipengaruhi:

revenue − cost to serve.

Segmen dengan revenue tinggi:

belum tentu profitable jika cost-to-serve juga tinggi.

Cost to Serve

Cost to serve dapat meliputi:

  • sales;
  • logistics;
  • customer service;
  • customization;
  • acquisition.

Jika satu segment membutuhkan:

terlalu banyak support,

margin:

dapat tertekan.

Segment Accessibility

Segmen menarik:

tetapi sulit dijangkau

mungkin:

tidak praktis untuk perusahaan.

Accessibility dipengaruhi:

  • channel;
  • location;
  • media;
  • distribution;
  • sales network.

Strategic Fit

Target segment harus sesuai dengan:

kemampuan perusahaan.

Misalnya perusahaan memiliki:

strong premium brand.

Maka mengejar:

extreme low-price segment

mungkin:

tidak sesuai dengan positioning.

Competitive Intensity

Segment yang menarik:

biasanya juga menarik bagi competitor.

Jika competition:

sangat kuat,

customer acquisition:

dapat menjadi mahal.

Segment Entry Barrier

Perusahaan perlu mengetahui:

seberapa mudah competitor masuk ke segmen yang sama.

Jika barrier rendah:

differentiation harus lebih kuat.

Segment Switching Cost

Customer dengan:

switching cost rendah

lebih mudah:

berpindah ke competitor.

Segmen tersebut membutuhkan:

value proposition yang kuat.

Segmentation dan Positioning

Segmentasi menentukan:

siapa yang ditargetkan.

Positioning menentukan:

bagaimana perusahaan ingin dipersepsikan oleh target tersebut.

Keduanya:

tidak dapat dipisahkan.

Value Proposition per Segment

Setiap segmen dapat memiliki:

value proposition berbeda.

Misalnya:

Price Segment

"Affordable and practical."

Premium Segment

"Superior quality and experience."

Convenience Segment

"Fast and effortless."

Product Differentiation

Segmentasi membantu menentukan:

produk mana yang perlu dibedakan.

Perusahaan dapat menawarkan:

  • basic;
  • standard;
  • premium.

Setiap tier:

memiliki target segment berbeda.

Product Portfolio

Portfolio yang terlalu luas:

meningkatkan complexity.

Portfolio yang terlalu sempit:

dapat kehilangan segment opportunity.

Segmentasi membantu:

menentukan portfolio yang optimal.

Segmentation dan Pricing

Segmentasi dapat digunakan untuk:

memahami perbedaan WTP.

Misalnya:

SegmentWTPPrice Sensitivity
ARendahTinggi
BSedangSedang
CTinggiRendah

Strategi pricing:

dapat disesuaikan.

Price Differentiation

Jika perusahaan menawarkan:

differentiated value,

harga berbeda:

dapat diterima oleh segmen berbeda.

Namun price differentiation harus:

didukung oleh perceived value.

Segmentation dan Promotion

Promotion dapat disesuaikan:

berdasarkan purchase driver.

Price-sensitive segment:

dapat merespons discount.

Quality-driven segment:

dapat merespons product demonstration.

Premium segment:

dapat merespons exclusivity.

Segmentation dan Channel

Tidak semua segmen:

menggunakan channel yang sama.

Misalnya:

Segment A lebih aktif di marketplace.

Segment B lebih banyak melalui offline retail.

Segment C melalui direct sales.

Channel strategy:

harus mengikuti customer behavior.

Segmentation dan Communication

Pesan marketing yang efektif:

relevan dengan kebutuhan segment.

Generic message:

cenderung kehilangan relevansi.

Segmentation dan Customer Experience

Experience juga dapat:

disesuaikan.

Premium customer:

mungkin membutuhkan concierge service.

Mass customer:

mungkin lebih membutuhkan self-service.

Segmentation dan Retention

Retention strategy:

juga perlu dibedakan.

High-value customer:

dapat memperoleh loyalty program khusus.

Price-sensitive customer:

mungkin lebih responsif terhadap reward berbasis transaksi.

Segmentation dan Customer Lifetime Value

Segmentasi berdasarkan CLV membantu:

menentukan prioritas retention.

Customer dengan:

CLV tinggi + churn risk tinggi

dapat menjadi:

priority segment.

RFM Analysis

RFM menggunakan:

  • Recency;
  • Frequency;
  • Monetary.

Customer dengan:

recent + frequent + high spending

dapat dikategorikan sebagai:

high-value customer.

Cohort Analysis

Cohort membandingkan:

customer berdasarkan waktu mereka mulai menggunakan produk.

Ini membantu melihat:

perubahan retention antarperiode.

Segmentation Berdasarkan Churn Risk

Customer dapat dibagi menjadi:

  • low risk;
  • medium risk;
  • high risk.

Strategi retention:

dapat difokuskan pada high-risk high-value customer.

Mengapa Data Primer Dibutuhkan?

Data internal:

menjelaskan apa yang terjadi.

Namun data primer dapat menjelaskan:

mengapa hal tersebut terjadi.

Misalnya data menunjukkan:

Segment A memiliki churn tinggi.

Survey dapat menemukan:

penyebabnya adalah service speed.

Peran Jasa Market Research

Jasa market research dapat menggabungkan:

behavioral data + survey + qualitative research + market data.

Dengan demikian:

segmentasi menjadi lebih robust.

Peran Jasa Sebar Kuisioner

Jasa sebar kuisioner dapat membantu memperoleh:

data dari berbagai profil responden.

Data dapat mencakup:

  • demographics;
  • needs;
  • attitudes;
  • behavior;
  • purchase frequency;
  • WTP;
  • satisfaction.

Designing Segmentation Questionnaire

Kuesioner segmentasi sebaiknya:

tidak hanya menanyakan demografi.

Masukkan:

Behavioral Questions

Seberapa sering membeli?

Need Questions

Apa kebutuhan utama?

Attitudinal Questions

Apa yang dianggap penting?

Economic Questions

Berapa willingness to pay?

Purchase Questions

Faktor apa yang menentukan pembelian?

Sampling untuk Segmentasi

Sampling harus:

mencakup variasi customer yang relevan.

Jika perusahaan ingin menemukan:

niche segment,

sample terlalu homogen:

dapat membuat segment tersebut tidak terlihat.

Sample Size

Segmentasi membutuhkan:

jumlah data yang cukup pada masing-masing kelompok.

Semakin banyak segment:

semakin besar kebutuhan data.

Namun:

sample size harus disesuaikan dengan analytical method.

Data Cleaning

Sebelum segmentation:

data perlu dibersihkan.

Periksa:

  • duplicate;
  • missing value;
  • inconsistent response;
  • straight-lining;
  • outlier.

Statistical Segmentation

Metode dapat meliputi:

  • cluster analysis;
  • latent class analysis;
  • factor analysis;
  • principal component analysis.

Pemilihan metode:

bergantung pada objective dan data.

Cluster Analysis

Cluster analysis mengelompokkan:

customer berdasarkan similarity.

Customer dalam satu cluster:

memiliki karakteristik relatif mirip.

Sedangkan antarcluster:

memiliki perbedaan yang lebih besar.

Factor Analysis

Factor analysis membantu:

mereduksi banyak variable menjadi beberapa underlying dimension.

Misalnya 15 atribut:

dapat direduksi menjadi:

  • convenience;
  • quality;
  • trust;
  • price.

Ini membuat:

segmentation lebih manageable.

Latent Class Analysis

LCA dapat digunakan untuk:

mengidentifikasi kelompok laten berdasarkan pola respons.

Keunggulannya:

membantu menemukan segment yang tidak terlihat secara eksplisit.

Segment Naming

Segment perlu diberi:

nama yang actionable.

Jangan hanya:

"Cluster 1."

Lebih baik:

"Value-Conscious Families."

Nama membantu:

stakeholder memahami karakteristik segment.

Segment Profile

Setiap segment sebaiknya memiliki:

  • size;
  • demographic;
  • behavior;
  • needs;
  • purchase driver;
  • WTP;
  • CLV;
  • preferred channel.

Dengan demikian:

segment dapat diterjemahkan menjadi strategy.

Segment Size

Mengetahui:

percentage segment

penting untuk:

market prioritization.

Namun:

size bukan satu-satunya faktor.

Segment Value

Segment value dapat dilihat dari:

CLV × Segment Size.

Tetapi cost to serve juga:

harus diperhitungkan.

Segment Priority Matrix

Perusahaan dapat membuat:

SegmentSizeGrowthProfitabilityCompetitionPriority
ATinggiSedangTinggiTinggiHigh
BSedangTinggiTinggiSedangVery High
CTinggiRendahRendahTinggiLow

Ini membantu:

mengubah data menjadi keputusan.

Segment Cannibalization

Segmentasi produk baru harus mempertimbangkan:

apakah customer baru benar-benar incremental.

Jika produk premium:

hanya memindahkan customer dari produk lama,

maka terjadi:

cannibalization.

Incremental Revenue

Opportunity yang baik:

menghasilkan incremental value.

Bukan sekadar:

memindahkan revenue antarproduk.

Segment Expansion

Perusahaan dapat memulai dari:

core segment.

Kemudian:

memperluas ke adjacent segment.

Strategi ini:

dapat mengurangi execution risk.

Segment Migration

Customer dapat:

berpindah segment.

Misalnya:

customer basic → premium.

Perusahaan perlu:

memahami trigger migrasi.

Upgrade Driver

Upgrade dapat dipicu:

  • increased income;
  • increased usage;
  • need complexity;
  • better product awareness.

Ini menciptakan:

upselling opportunity.

Segment Evolution

Segment:

bukan kategori permanen.

Kebutuhan dapat berubah:

seiring waktu.

Karena itu segmentation perlu:

diperbarui secara berkala.

Market Segmentation dan Consumer Behavior

Perubahan:

behavior

dapat menciptakan:

segment baru.

Misalnya:

konsumen yang sebelumnya offline

beralih:

digital-first.

Perubahan tersebut:

dapat mengubah channel strategy.

Dynamic Segmentation

Dynamic segmentation menggunakan:

data behavior secara berkala.

Ini memungkinkan perusahaan:

menyesuaikan strategi secara real-time atau near real-time.

Segmentasi yang Tidak Efektif

Segmentasi menjadi tidak berguna jika:

  • terlalu banyak segment;
  • segment overlap;
  • tidak ada data;
  • tidak dapat dijangkau;
  • tidak berbeda secara strategis.

Too Many Segments

Jika perusahaan memiliki:

20 segment

tetapi hanya:

3 strategy,

segmentasi:

terlalu kompleks.

Segmentasi yang baik:

harus membantu keputusan.

Segment Overlap

Jika dua segment:

memiliki kebutuhan dan behavior hampir sama,

mungkin:

tidak perlu dipisahkan.

Segment Stability

Segment yang terlalu kecil atau:

sangat volatile

dapat:

sulit digunakan untuk planning.

Actionability

Segmentasi harus menjawab:

"Apa yang akan kita lakukan berbeda terhadap segment ini?"

Jika jawabannya:

tidak ada,

maka segmentasi:

kurang actionable.

Q&A Seputar Jasa Market Research dan Jasa Sebar Kuisioner

Apa itu market segmentation?

Market segmentation adalah proses membagi pasar menjadi kelompok konsumen berdasarkan karakteristik, kebutuhan, perilaku, atau nilai ekonomi yang relatif serupa.

Mengapa perusahaan membutuhkan jasa market research untuk segmentasi?

Jasa market research membantu perusahaan memperoleh data dan melakukan analisis untuk menemukan perbedaan kebutuhan, behavior, purchase driver, dan economic value antar kelompok customer.

Apa manfaat jasa sebar kuisioner untuk market segmentation?

Jasa sebar kuisioner membantu mengumpulkan data primer mengenai demographic, behavioral, psychographic, needs, WTP, purchase frequency, dan satisfaction.

Apakah segmentasi hanya berdasarkan usia dan pendapatan?

Tidak. Segmentasi dapat menggunakan demographic, geographic, psychographic, behavioral, need-based, dan economic variables.

Mengapa behavioral segmentation penting?

Karena perilaku aktual seperti purchase frequency, loyalty, usage, dan promotion response sering lebih dekat dengan kebutuhan strategi bisnis dibanding demographic saja.

Apa perbedaan segmentation dan targeting?

Segmentation membagi pasar menjadi kelompok-kelompok, sedangkan targeting menentukan kelompok mana yang akan diprioritaskan perusahaan.

Apakah segment terbesar selalu menjadi target terbaik?

Tidak. Segment kecil dapat lebih menarik jika memiliki profitability, CLV, growth, dan willingness to pay yang lebih tinggi.

Bagaimana menentukan segment yang paling profitable?

Perusahaan dapat menganalisis revenue, margin, purchase frequency, retention, CLV, CAC, dan cost to serve.

Apa itu need-based segmentation?

Need-based segmentation membagi customer berdasarkan kebutuhan atau benefit yang mereka cari, misalnya price, quality, convenience, safety, atau premium experience.

Apa itu cluster analysis?

Cluster analysis merupakan metode statistik untuk mengelompokkan responden berdasarkan kemiripan karakteristik atau pola respons.

Mengapa sample penting dalam segmentasi?

Karena segmentasi yang dibangun dari sample yang tidak representatif dapat menghasilkan segment yang tidak menggambarkan kondisi target market sebenarnya.

Apakah segmentasi harus dilakukan sekali?

Tidak. Perilaku, kebutuhan, teknologi, kompetisi, dan kondisi ekonomi dapat berubah sehingga segmentasi sebaiknya dievaluasi secara berkala.

Bagaimana hasil segmentasi digunakan dalam strategi bisnis?

Hasilnya dapat digunakan untuk:

  • menentukan target market;
  • product development;
  • pricing;
  • positioning;
  • marketing communication;
  • channel strategy;
  • customer retention.

Market segmentation bukan sekadar:

membagi customer berdasarkan usia, gender, atau lokasi.

Segmentasi yang bernilai secara strategis harus mampu menjelaskan:

mengapa customer berbeda, apa yang mereka butuhkan, bagaimana mereka membeli, berapa nilai ekonomi mereka, dan strategi apa yang harus dilakukan perusahaan terhadap masing-masing kelompok.

Melalui jasa market research, perusahaan dapat membangun segmentasi berdasarkan:

demographic,

psychographic,

behavioral,

needs,

purchase driver,

willingness to pay,

profitability,

dan:

customer lifetime value.

Sementara jasa sebar kuisioner dapat menyediakan:

data primer yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan antarsegmen secara lebih objektif.

Pendekatan yang lebih matang harus mampu membedakan:

segment size vs segment value

demographic similarity vs behavioral similarity

interest vs purchase behavior

revenue vs profitability

customer count vs customer lifetime value

market attractiveness vs strategic fit

Dengan demikian, tujuan akhir segmentasi bukan:

memiliki banyak kelompok customer.

Tujuan akhirnya adalah:

menentukan kelompok customer yang paling layak diprioritaskan dan mengetahui bagaimana perusahaan harus menciptakan value yang berbeda untuk mereka.

Karena perusahaan memiliki:

resource yang terbatas,

maka keputusan mengenai:

siapa yang dilayani,

bagaimana mereka dilayani,

produk apa yang ditawarkan,

berapa harga yang ditetapkan,

dan:

channel apa yang digunakan

harus dibuat berdasarkan:

economic value dan customer evidence.

Di sinilah jasa market research dan jasa sebar kuisioner menjadi instrumen penting dalam membangun strategi segmentasi yang lebih data-driven.

Pada akhirnya, perusahaan tidak perlu berusaha:

menjadi pilihan bagi semua orang.

Strategi yang lebih kuat adalah:

menjadi pilihan yang paling relevan bagi segmen yang memiliki kebutuhan kuat, willingness to pay memadai, dan economic value yang menarik bagi bisnis.

Baca Juga