Product Portfolio Strategy Berbasis Data: Menentukan Produk yang Layak Dipertahankan, Dikembangkan, atau Dihentikan

oleh Admin Aug 21, 2026 Market

Product Portfolio Strategy Berbasis Data: Menentukan Produk yang Layak Dipertahankan, Dikembangkan, atau Dihentikan

Jasa market research dapat membantu perusahaan mengevaluasi portofolio produk secara lebih objektif dengan menghubungkan data pasar, perilaku konsumen, profitabilitas, dan potensi pertumbuhan. Banyak perusahaan memiliki sejumlah produk yang terus dipertahankan hanya karena sudah lama dijual, memiliki pelanggan tertentu, atau pernah menjadi produk unggulan. Padahal, produk yang secara historis menghasilkan penjualan belum tentu masih memberikan kontribusi ekonomi yang optimal bagi perusahaan.

Di sisi lain, jasa sebar kuisioner dapat digunakan untuk memperoleh data primer mengenai tingkat kebutuhan konsumen, kepuasan, purchase intention, switching intention, preferensi produk, hingga alasan konsumen memilih atau meninggalkan produk tertentu. Informasi tersebut penting ketika perusahaan harus menentukan apakah sebuah produk sebaiknya dipertahankan, direposisi, dikembangkan, atau bahkan dihentikan.

Dalam perspektif ekonomi, product portfolio bukan sekadar kumpulan barang atau layanan yang dijual perusahaan. Portfolio merupakan:

alokasi sumber daya perusahaan ke berbagai produk dengan tingkat return, growth potential, dan risk yang berbeda.

Karena itu pertanyaan strategisnya bukan hanya:

"Produk mana yang paling laku?"

Tetapi:

"Produk mana yang memberikan kontribusi terbaik terhadap pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan di masa depan?"

Apa Itu Product Portfolio Strategy?

Product portfolio strategy merupakan pendekatan untuk menentukan:

  • produk apa yang dipertahankan;
  • produk apa yang dikembangkan;
  • produk apa yang direposisi;
  • produk apa yang diperluas;
  • produk apa yang dikurangi;
  • produk apa yang dihentikan.

Keputusan tersebut sebaiknya mempertimbangkan:

market attractiveness × product competitiveness × economic contribution.

Dengan demikian perusahaan tidak hanya melihat sisi demand, tetapi juga:

kemampuan produk menghasilkan economic value.

Penjualan Tinggi Tidak Selalu Berarti Produk Berkinerja Tinggi

Bayangkan terdapat dua produk.

Produk A

  • Revenue: Rp5 miliar
  • Gross margin: 15%

Produk B

  • Revenue: Rp3 miliar
  • Gross margin: 40%

Revenue Produk A lebih tinggi.

Namun gross profit:

Produk A = Rp750 juta

Produk B = Rp1,2 miliar

Artinya:

produk dengan revenue lebih kecil justru menghasilkan gross profit lebih besar.

Jika perusahaan hanya menggunakan sales volume sebagai indikator:

keputusan portfolio dapat menjadi bias.

Revenue vs Profitability

Evaluasi produk harus membedakan:

top line

dengan:

bottom line.

Revenue menunjukkan:

nilai penjualan.

Profit menunjukkan:

nilai ekonomi yang tersisa setelah biaya.

Karena itu perusahaan perlu menganalisis:

  • revenue;
  • gross margin;
  • contribution margin;
  • operating cost;
  • marketing cost;
  • distribution cost;
  • customer acquisition cost.

Contribution Margin sebagai Dasar Evaluasi

Salah satu indikator penting adalah:

Contribution Margin = Revenue – Variable Cost

Misalnya sebuah produk memiliki:

Harga jual = Rp100.000

Variable cost = Rp60.000

Maka contribution:

Rp40.000 per unit.

Produk dengan contribution margin tinggi memiliki kemampuan lebih besar untuk:

menutup fixed cost dan menghasilkan operating profit.

Tetapi Margin Tinggi Juga Belum Cukup

Produk dapat memiliki:

margin tinggi

tetapi:

demand rendah.

Contohnya:

margin 60%, tetapi hanya terjual 100 unit.

Sementara produk lain:

margin 25%, tetapi terjual 100.000 unit.

Karena itu portfolio analysis harus menghubungkan:

margin dengan volume dan growth potential.

Market Attractiveness dan Product Competitiveness

Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah membandingkan:

Market Attractiveness

Seberapa menarik pasar tempat produk beroperasi?

Dipengaruhi oleh:

  • market size;
  • growth;
  • profitability;
  • demand;
  • competition.

Product Competitiveness

Seberapa kuat produk dibandingkan alternatif?

Dipengaruhi oleh:

  • price;
  • quality;
  • brand;
  • distribution;
  • customer loyalty;
  • differentiation.

Produk yang berada pada:

high attractiveness + high competitiveness

biasanya memiliki:

prioritas investasi lebih tinggi.

Mengapa Data Konsumen Penting?

Data internal perusahaan dapat menunjukkan:

berapa banyak produk terjual.

Tetapi belum tentu menjelaskan:

mengapa produk tersebut dibeli.

Market research dapat menjawab pertanyaan seperti:

  • Mengapa customer memilih produk ini?
  • Apa alasan mereka membeli ulang?
  • Apa yang membuat mereka berpindah?
  • Fitur apa yang dianggap penting?
  • Apakah harga dianggap sesuai?
  • Apakah ada kebutuhan yang belum terpenuhi?

Data tersebut membantu perusahaan memahami:

customer economics di balik angka penjualan.

Peran Jasa Market Research dalam Portfolio Strategy

Jasa market research dapat membantu mengevaluasi produk melalui:

  1. Customer research
  2. Market sizing
  3. Competitor analysis
  4. Product perception
  5. Pricing research
  6. Satisfaction analysis
  7. Purchase intention
  8. Switching analysis

Hasilnya dapat digunakan untuk:

menentukan prioritas produk secara lebih objektif.

Peran Jasa Sebar Kuisioner

Jasa sebar kuisioner menjadi relevan ketika perusahaan membutuhkan:

data primer dari pengguna produk.

Misalnya perusahaan memiliki:

10 produk.

Perusahaan ingin mengetahui:

produk mana yang memiliki customer loyalty tertinggi.

Survei dapat mengukur:

  • repeat intention;
  • satisfaction;
  • recommendation;
  • switching intention;
  • preference.

Product Preference

Perusahaan dapat meminta responden:

memilih produk yang paling disukai.

Namun pertanyaan preference saja belum cukup.

Perusahaan juga perlu mengetahui:

mengapa produk tersebut dipilih.

Misalnya:

45% memilih Produk A.

Alasannya:

harga.

Sementara Produk B:

dipilih 30% karena kualitas.

Insight tersebut memberikan:

strategic implication berbeda.

Customer Satisfaction

Satisfaction dapat menjadi:

leading indicator.

Produk dengan satisfaction rendah berpotensi menghadapi:

  • churn;
  • negative word of mouth;
  • declining repeat purchase.

Namun satisfaction juga tidak otomatis berarti:

loyalty.

Customer dapat puas:

tetapi tetap berpindah karena kompetitor memberikan harga lebih murah.

Switching Intention

Salah satu indikator yang penting adalah:

switching intention.

Jika banyak customer mempertimbangkan pindah:

produk mungkin menghadapi competitive threat.

Survei dapat menggali:

alasan perpindahan.

Misalnya:

  • harga;
  • kualitas;
  • service;
  • availability;
  • feature;
  • brand.

Dengan demikian perusahaan tidak hanya mengetahui:

"customer akan pindah."

Tetapi:

"mengapa customer akan pindah."

Customer Retention

Produk dengan customer retention tinggi dapat memberikan:

revenue yang lebih predictable.

Jika customer melakukan pembelian berulang:

perusahaan tidak harus terus-menerus memperoleh customer baru.

Hal ini berpengaruh langsung terhadap:

customer acquisition economics.

Customer Acquisition Cost

Misalnya:

CAC = Rp100.000.

Jika customer hanya membeli sekali:

kontribusi mungkin tidak cukup menutup CAC.

Namun jika customer membeli:

10 kali,

economics-nya dapat menjadi jauh lebih menarik.

Karena itu product portfolio analysis perlu melihat:

customer lifetime value.

Customer Lifetime Value

Secara konseptual:

CLV menggambarkan nilai ekonomi customer selama periode hubungan dengan perusahaan.

Produk dengan:

repeat purchase tinggi

dapat menghasilkan:

CLV lebih besar.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa produk dengan revenue awal rendah:

tidak selalu layak dihentikan.

Product Lifecycle

Produk biasanya mengalami:

  1. Introduction
  2. Growth
  3. Maturity
  4. Decline

Setiap fase membutuhkan:

strategi berbeda.

Produk pada fase growth:

dapat membutuhkan investasi besar.

Produk mature:

dapat fokus pada efficiency.

Produk declining:

perlu dievaluasi apakah masih ekonomis dipertahankan.

Produk Declining Tidak Selalu Harus Dihentikan

Produk yang mengalami penurunan sales:

belum tentu harus dihentikan.

Pertanyaan penting:

Apakah produk masih profitable?

Jika:

revenue turun

tetapi:

contribution margin tetap positif dan biaya incremental rendah,

produk mungkin masih layak:

dipertahankan sebagai cash generator.

Cash Cow Perspective

Produk mature dengan:

  • demand stabil;
  • market share kuat;
  • investment requirement rendah;

dapat menjadi:

sumber cash flow.

Cash tersebut dapat digunakan untuk:

membiayai produk baru.

Inilah alasan portfolio harus dilihat sebagai:

sistem alokasi sumber daya.

Produk Baru dan Investment Decision

Produk baru biasanya:

membutuhkan investment.

Namun belum menghasilkan:

cash flow yang stabil.

Perusahaan perlu mengestimasi:

  • adoption;
  • market size;
  • conversion;
  • price;
  • repeat purchase;
  • cost.

Data market research dapat digunakan untuk:

memperbaiki assumption tersebut.

Product-Market Fit

Produk yang memiliki:

strong product-market fit

biasanya menunjukkan:

  • clear customer need;
  • repeat usage;
  • willingness to pay;
  • customer retention;
  • organic demand.

Jika customer hanya tertarik:

tetapi tidak melakukan pembelian ulang,

perusahaan perlu mengevaluasi kembali:

product-market fit.

Product Cannibalization

Portfolio yang terlalu banyak dapat menghasilkan:

cannibalization.

Misalnya perusahaan memiliki:

Produk A, B, dan C.

Ketika Produk C diluncurkan:

sales A turun 20%.

Namun total portfolio hanya naik:

5%.

Artinya:

sebagian demand C berasal dari customer A.

Produk baru memang tumbuh:

tetapi tidak seluruhnya incremental.

Mengukur Incremental Demand

Ini sangat penting dalam portfolio strategy.

Perusahaan perlu bertanya:

"Berapa penjualan yang benar-benar baru?"

bukan hanya:

"Berapa penjualan produk baru?"

Jika produk baru:

mengambil customer produk lama,

maka economic benefit sebenarnya:

lebih kecil daripada headline sales.

Product Overlap

Portfolio yang terlalu luas juga dapat meningkatkan:

  • inventory;
  • SKU complexity;
  • marketing complexity;
  • operational cost;
  • forecasting difficulty.

Karena itu:

lebih banyak produk tidak selalu lebih baik.

SKU Rationalization

SKU rationalization adalah proses:

mengevaluasi dan menyederhanakan jumlah produk atau varian.

Tujuannya:

mengurangi complexity tanpa kehilangan customer value.

Misalnya perusahaan memiliki:

100 SKU.

Setelah analisis:

20 SKU menyumbang 80% revenue.

Namun prinsip Pareto tidak berarti:

80 SKU harus langsung dihentikan.

Produk dengan revenue kecil dapat memiliki:

strategic importance.

Strategic Role Produk

Sebuah produk dapat memiliki fungsi:

Revenue Generator

Menghasilkan sales.

Profit Generator

Menghasilkan margin.

Customer Acquisition Product

Menarik customer baru.

Cross-Selling Product

Mendorong pembelian produk lain.

Brand Builder

Memperkuat positioning.

Innovation Product

Menguji teknologi atau market baru.

Karena itu evaluasi produk harus:

mempertimbangkan strategic role.

Product Portfolio dan Brand Architecture

Terlalu banyak produk juga dapat:

membingungkan customer.

Jika positioning antarproduk:

tidak jelas,

customer dapat kesulitan memahami:

mengapa harus memilih satu produk dibanding produk lain.

Market research dapat digunakan untuk mengukur:

perceived differentiation.

Price Architecture

Portfolio juga perlu memiliki:

struktur harga yang logis.

Misalnya:

Basic: Rp50.000

Standard: Rp100.000

Premium: Rp200.000

Jika perbedaan value:

tidak jelas,

customer dapat:

memilih produk termurah.

Namun jika differentiation jelas:

premiumization dapat meningkatkan average revenue.

Willingness to Pay Antarsegmen

Tidak semua customer:

memiliki willingness to pay yang sama.

Segment premium mungkin bersedia:

membayar lebih untuk quality atau convenience.

Segment price-sensitive:

lebih fokus pada affordability.

Data melalui jasa sebar kuisioner dapat membantu:

memetakan perbedaan tersebut.

Product Feature Research

Perusahaan juga dapat mengukur:

fitur mana yang paling penting.

Misalnya produk memiliki:

  • Feature A
  • Feature B
  • Feature C
  • Feature D

Jika Feature A dianggap sangat penting:

investment pada Feature A dapat memiliki priority lebih tinggi.

Jangan Mengembangkan Semua Fitur

Menambah fitur:

tidak selalu meningkatkan value.

Fitur juga menghasilkan:

  • development cost;
  • maintenance cost;
  • complexity.

Karena itu:

feature prioritization

perlu mempertimbangkan:

customer value vs economic cost.

Voice of Customer

Market research membantu perusahaan mendapatkan:

Voice of Customer (VoC).

VoC dapat berupa:

  • kebutuhan;
  • keluhan;
  • preference;
  • expectation;
  • desired improvement.

Namun VoC tidak boleh diterjemahkan secara mentah.

Customer mengatakan:

"Saya ingin fitur X."

Pertanyaan ekonominya:

apakah customer bersedia membayar untuk fitur X?

Jika tidak:

feature request belum tentu memiliki commercial value.

From Customer Insight to Product Decision

Proses yang ideal:

Data → Insight → Economic Interpretation → Strategic Decision

Misalnya:

Data:

60% customer menganggap harga terlalu tinggi.

Insight:

price sensitivity tinggi.

Economic interpretation:

pricing menjadi constraint terhadap demand.

Decision:

perusahaan menguji:

smaller package / tiered pricing.

Inilah fungsi market research yang lebih strategis.

Product Portfolio Matrix

Perusahaan dapat mengelompokkan produk berdasarkan:

market attractiveness

dan:

competitive strength.

Contohnya:

Competitive Strength TinggiCompetitive Strength Rendah
Market Attractiveness TinggiInvestImprove/Partner
Market Attractiveness RendahHarvestDivest

Framework tersebut membantu:

mengalokasikan modal.

Invest

Produk:

layak mendapatkan investment.

Misalnya:

  • marketing;
  • distribution;
  • capacity;
  • R&D.

Improve

Produk memiliki opportunity:

tetapi competitive position belum kuat.

Perusahaan perlu menentukan:

apakah gap dapat diperbaiki.

Harvest

Produk tidak lagi membutuhkan:

investment besar.

Namun masih menghasilkan:

cash flow.

Strateginya:

memaksimalkan cash generation.

Divest

Jika produk:

demand rendah,

margin rendah,

strategic fit rendah,

dan:

recovery opportunity kecil,

perusahaan dapat mempertimbangkan:

penghentian atau divestment.

Data yang Dibutuhkan untuk Portfolio Evaluation

Data ideal mencakup:

Internal Data

  • sales;
  • margin;
  • cost;
  • customer;
  • retention;
  • SKU performance.

Market Data

  • market size;
  • growth;
  • competitor;
  • pricing.

Primary Research

  • preference;
  • satisfaction;
  • purchase intention;
  • willingness to pay;
  • switching intention.

Ketiga sumber tersebut perlu:

dikombinasikan.

Why Primary Research Matters

Data internal menunjukkan:

apa yang customer lakukan.

Data primer dapat membantu menjelaskan:

mengapa mereka melakukannya.

Contohnya sales produk turun.

Kemungkinan penyebab:

price.

Tetapi survei menunjukkan:

availability menjadi masalah utama.

Tanpa primary research:

perusahaan dapat memperbaiki variabel yang salah.

Quality Control dalam Jasa Sebar Kuisioner

Jika perusahaan menggunakan jasa sebar kuisioner, kualitas responden perlu diperhatikan.

Beberapa indikator:

  • completion time;
  • consistency;
  • duplicate response;
  • screening;
  • straight-lining;
  • attention check.

Data berkualitas rendah dapat menghasilkan:

false insight.

Sample Representativeness

Sample harus mencerminkan:

target population.

Jika produk menyasar:

pengguna usia 25–40 tahun,

survei tidak seharusnya didominasi:

responden di luar target.

Jika tidak:

portfolio decision dapat bias.

Portfolio Decision dan Opportunity Cost

Setiap rupiah yang dialokasikan ke Produk A:

tidak dapat digunakan untuk Produk B.

Inilah:

opportunity cost.

Karena itu portfolio strategy pada dasarnya merupakan:

capital allocation problem.

Pertanyaannya:

"Produk mana yang memberikan expected return terbaik atas sumber daya yang tersedia?"

Expected Return

Secara sederhana:

Expected Return = Σ Probability × Return

Jika sebuah produk memiliki:

return potensial tinggi,

tetapi:

probability keberhasilannya rendah,

expected value belum tentu tinggi.

Karena itu:

uncertainty harus diperhitungkan.

Risk-Adjusted Portfolio

Portfolio yang sehat biasanya tidak hanya terdiri dari:

high-growth products.

Perusahaan dapat mengombinasikan:

  • stable products;
  • growth products;
  • experimental products.

Dengan begitu:

cash flow stabil dapat membiayai innovation.

Product Portfolio sebagai Investment Portfolio

Analogi sederhananya:

perusahaan tidak seharusnya "menaruh semua telur dalam satu keranjang".

Produk mature:

memberikan stability.

Produk growth:

memberikan expansion.

Produk experimental:

memberikan optionality.

Namun diversifikasi tidak boleh dilakukan secara:

sembarangan.

Setiap produk harus memiliki:

strategic rationale.

Q&A Seputar Jasa Market Research dan Jasa Sebar Kuisioner

Apa itu product portfolio strategy?

Product portfolio strategy adalah proses mengevaluasi dan mengelola berbagai produk perusahaan untuk menentukan produk yang perlu dipertahankan, dikembangkan, direposisi, dikurangi, atau dihentikan.

Apa peran jasa market research dalam product portfolio?

Jasa market research membantu perusahaan memahami market demand, consumer preference, competitive position, pricing, satisfaction, dan growth opportunity masing-masing produk.

Apa fungsi jasa sebar kuisioner untuk evaluasi produk?

Jasa sebar kuisioner membantu memperoleh data primer dari pengguna atau target customer mengenai preference, satisfaction, purchase intention, willingness to pay, dan switching intention.

Apakah produk dengan penjualan tertinggi harus selalu dipertahankan?

Tidak. Perusahaan perlu melihat margin, cash flow, growth potential, strategic role, customer economics, dan opportunity cost.

Kapan produk sebaiknya dihentikan?

Produk dapat dipertimbangkan untuk dihentikan ketika demand dan profitability rendah, strategic fit lemah, membutuhkan resources besar, dan tidak memiliki realistic improvement opportunity.

Apakah produk dengan penjualan rendah pasti buruk?

Tidak. Produk dengan sales kecil dapat memiliki fungsi strategis sebagai customer acquisition product, premium product, brand builder, atau cross-selling product.

Mengapa customer research penting dalam portfolio strategy?

Karena data sales hanya menunjukkan perilaku aktual, sementara customer research dapat membantu menjelaskan motivasi, preference, dissatisfaction, dan unmet needs di balik perilaku tersebut.

Apa yang dimaksud product cannibalization?

Product cannibalization terjadi ketika produk baru mengambil sebagian demand dari produk lama sehingga pertumbuhan portfolio secara keseluruhan jauh lebih kecil daripada pertumbuhan produk baru tersebut.

Bagaimana cara mengukur produk yang paling potensial?

Perusahaan dapat menggabungkan market attractiveness, competitive strength, revenue potential, margin, customer lifetime value, growth, dan strategic fit.

Apakah survei saja cukup untuk menentukan produk yang dihentikan?

Sebaiknya tidak. Keputusan tersebut perlu menggabungkan survey dengan sales data, profitability, operational cost, competitive analysis, dan strategic considerations.

Mengapa sampling penting dalam product research?

Karena keputusan produk akan bergantung pada siapa yang memberikan data. Responden yang tidak sesuai target dapat menghasilkan insight yang tidak relevan.

Product portfolio strategy pada dasarnya merupakan:

masalah alokasi sumber daya.

Perusahaan memiliki:

modal, tenaga kerja, kapasitas produksi, anggaran marketing, dan perhatian manajemen yang terbatas.

Sementara jumlah peluang produk:

tidak terbatas.

Karena itu perusahaan harus menentukan:

produk mana yang paling layak mendapatkan resources.

Jasa market research membantu perusahaan melihat sisi eksternal melalui:

  • market demand;
  • customer behavior;
  • competitive landscape;
  • pricing;
  • market growth;
  • consumer preference.

Sementara jasa sebar kuisioner dapat menyediakan:

data primer langsung dari target konsumen.

Data tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan:

sales performance + profitability + customer economics + market data.

Hasil akhirnya bukan sekadar:

"Produk A paling laku."

Tetapi analisis yang jauh lebih strategis:

Produk A paling layak dikembangkan karena market-nya tumbuh, competitive position kuat, customer retention tinggi, margin sehat, dan incremental demand masih besar.

Sebaliknya:

Produk B mungkin memiliki revenue tinggi tetapi margin rendah, customer acquisition cost tinggi, dan pasar yang stagnan.

Maka keputusan yang rasional mungkin bukan:

menambah investment pada Produk B,

melainkan:

harvest, reposition, rationalize, atau bahkan discontinue.

Dengan pendekatan tersebut, evaluasi portfolio berubah dari:

product-by-product decision

menjadi:

portfolio-level capital allocation strategy.

Dan semakin besar jumlah produk serta investasi yang dikelola perusahaan, semakin penting penggunaan:

jasa market research dan jasa sebar kuisioner

untuk memastikan keputusan portfolio tidak hanya didasarkan pada intuisi, tetapi pada:

data, customer evidence, economic analysis, dan strategic priorities.

Baca Juga