Jasa market research membantu perusahaan memahami bahwa pasar tidak pernah benar-benar homogen. Konsumen memiliki kebutuhan, daya beli, preferensi, perilaku, sensitivitas harga, dan tingkat loyalitas yang berbeda. Melalui jasa sebar kuisioner, perusahaan dapat memperoleh data primer untuk mengidentifikasi kelompok konsumen dengan karakteristik yang relatif serupa sehingga strategi produk, harga, komunikasi, dan distribusi dapat dirancang secara lebih presisi.
Kesalahan yang sering dilakukan perusahaan adalah menganggap:
"Semua orang adalah target market kita."
Secara teoritis, semakin luas target market terlihat semakin besar peluang bisnis. Namun secara ekonomi, pendekatan tersebut dapat menghasilkan:
- marketing cost yang lebih tinggi;
- komunikasi yang terlalu umum;
- product development yang tidak fokus;
- pricing yang tidak optimal;
- customer acquisition yang tidak efisien.
Pasar yang besar:
belum tentu merupakan pasar yang paling profitable.
Sebaliknya, sebuah segmen yang secara jumlah lebih kecil dapat memiliki:
willingness to pay lebih tinggi,
retention lebih kuat,
dan:
customer lifetime value lebih besar.
Karena itu, consumer segmentation bukan sekadar aktivitas membagi konsumen berdasarkan usia atau lokasi. Tujuan akhirnya adalah:
menemukan kelompok konsumen yang memiliki kebutuhan berbeda dan memberikan economic opportunity yang berbeda bagi perusahaan.
Apa Itu Consumer Segmentation?
Consumer segmentation adalah proses:
membagi pasar ke dalam kelompok konsumen berdasarkan karakteristik, kebutuhan, perilaku, atau economic value yang relevan terhadap keputusan bisnis.
Segmentasi dapat dilakukan berdasarkan:
- demographic;
- geographic;
- psychographic;
- behavioral;
- socioeconomic;
- needs-based;
- value-based.
Namun segmentasi yang baik bukan sekadar menghasilkan:
banyak kelompok.
Segmentasi harus menghasilkan:
kelompok yang meaningful untuk pengambilan keputusan.
Mengapa Pasar Tidak Bisa Diperlakukan sebagai Satu Kelompok?
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki:
1 juta potential consumers.
Jika seluruh konsumen diperlakukan sama, perusahaan mungkin menggunakan:
satu produk,
satu harga,
satu pesan marketing.
Padahal:
kebutuhan dan willingness to pay dapat berbeda secara signifikan.
Akibatnya:
strategi rata-rata
dapat gagal memenuhi:
kebutuhan segmen tertentu.
Heterogenitas Konsumen
Dalam ekonomi, konsumen memiliki:
preference heterogeneity.
Artinya:
konsumen memberikan utility yang berbeda terhadap atribut produk yang sama.
Contohnya:
customer A sangat menghargai harga murah.
Sedangkan:
customer B lebih menghargai kualitas dan convenience.
Produk yang sama:
menghasilkan perceived value berbeda.
Segmentation vs Targeting
Keduanya berbeda.
Segmentation
menemukan kelompok konsumen yang berbeda.
Targeting
menentukan kelompok mana yang akan diprioritaskan.
Perusahaan:
tidak harus mengejar semua segmen.
Segmentation vs Positioning
Positioning menjawab:
bagaimana produk ingin dipersepsikan oleh target market.
Maka alurnya:
Segmentation → Targeting → Positioning
Ketiganya:
saling berkaitan.
Mengapa Demographic Segmentation Saja Tidak Cukup?
Demographic seperti:
- usia;
- gender;
- pendidikan;
- pekerjaan;
- income;
mudah digunakan.
Namun dua orang dengan:
usia sama,
income sama,
belum tentu memiliki:
kebutuhan dan perilaku yang sama.
Karena itu:
demographic harus dikombinasikan dengan behavioral atau needs-based variables.
Behavioral Segmentation
Behavioral segmentation melihat:
- frequency;
- usage;
- purchase occasion;
- brand loyalty;
- switching;
- channel preference.
Segment berdasarkan behavior:
sering kali lebih actionable.
Example
Misalnya terdapat:
customer low frequency,
medium frequency,
high frequency.
Customer high frequency:
mungkin memiliki CLV lebih tinggi.
Maka:
retention strategy dapat diprioritaskan kepada kelompok tersebut.
Needs-Based Segmentation
Needs-based segmentation membagi customer berdasarkan:
kebutuhan utama yang ingin mereka selesaikan.
Contohnya:
Segment A
price efficiency.
Segment B
convenience.
Segment C
premium quality.
Segment D
customization.
Pendekatan ini:
lebih dekat dengan customer value proposition.
Psychographic Segmentation
Psychographic melihat:
- lifestyle;
- attitude;
- values;
- personality;
- aspiration.
Pendekatan ini dapat membantu:
memahami mengapa konsumen memilih produk tertentu.
Economic Segmentation
Dalam perspektif bisnis:
segment juga dapat dibedakan berdasarkan economic value.
Contohnya:
- high WTP;
- high frequency;
- high retention;
- low acquisition cost.
Segmen seperti ini:
memiliki potential profitability lebih tinggi.
Customer Value Segmentation
Perusahaan dapat menghitung:
customer value.
Misalnya:
| Segment | Average Spend | Frequency | Retention |
|---|---|---|---|
| A | Rendah | Rendah | Rendah |
| B | Sedang | Tinggi | Sedang |
| C | Tinggi | Tinggi | Tinggi |
Secara ekonomi:
Segment C mungkin menjadi priority segment.
Tidak Semua Customer Sama Bernilainya
Ini merupakan prinsip penting.
Jumlah customer:
bukan satu-satunya ukuran market attractiveness.
Perusahaan perlu melihat:
value per customer.
Customer Lifetime Value
CLV memperkirakan:
nilai ekonomi customer selama hubungan dengan perusahaan.
Secara konseptual:
CLV ≈ Average Customer Value × Purchase Frequency × Customer Lifetime
Model sebenarnya dapat memasukkan:
- gross margin;
- retention;
- discount rate;
- acquisition cost.
Segment dengan CLV Tinggi
Segmen dengan:
CLV tinggi
dapat memberikan:
economic return lebih besar.
Namun perusahaan tetap perlu mempertimbangkan:
cost to acquire.
Customer Acquisition Cost per Segment
Jika:
Segment A memiliki CLV Rp1 juta
dan:
CAC Rp800.000,
maka:
margin ekonominya terbatas.
Sedangkan:
Segment B memiliki CLV Rp2 juta
dengan:
CAC Rp400.000,
maka:
Segment B jauh lebih menarik.
Segment Profitability
Karena itu:
segment attractiveness
tidak hanya berdasarkan:
market size.
Harus mempertimbangkan:
size + growth + WTP + retention + CAC + competition + margin.
Market Size vs Market Value
Segmen kecil:
tidak otomatis buruk.
Misalnya:
50.000 customer premium
dengan:
annual contribution Rp5 juta/customer
dapat menghasilkan:
economic value besar.
Sementara:
500.000 customer low-value
belum tentu menghasilkan:
profit yang lebih besar.
Segment Growth
Selain current value:
perusahaan perlu melihat future growth.
Segmen:
kecil hari ini
dapat menjadi:
besar di masa depan.
Emerging Segment
Market research dapat membantu menemukan:
emerging consumer segment.
Indikatornya:
- increasing usage;
- changing preference;
- rising willingness to pay;
- growing category interest.
Segment Attractiveness
Framework sederhana:
Market Size + Growth + Profitability + Accessibility + Strategic Fit
Semakin tinggi:
kombinasi faktor tersebut,
semakin menarik:
segment.
Market Accessibility
Segmen dapat besar:
tetapi sulit dijangkau.
Misalnya:
channel acquisition sangat mahal.
Maka:
attractiveness menurun.
Strategic Fit
Segmen yang menarik:
belum tentu cocok dengan capability perusahaan.
Perusahaan perlu mempertimbangkan:
- product capability;
- distribution;
- technology;
- service;
- brand positioning.
Data yang Dibutuhkan untuk Segmentasi
Jasa market research dapat mengumpulkan:
Demographic Data
- age;
- occupation;
- income;
- education;
- location.
Behavioral Data
- purchase frequency;
- usage;
- brand choice;
- channel;
- switching.
Attitudinal Data
- preference;
- perception;
- satisfaction;
- motivation.
Economic Data
- spending;
- WTP;
- price sensitivity.
Peran Jasa Sebar Kuisioner
Jasa sebar kuisioner sangat relevan ketika perusahaan membutuhkan:
data primer dari target population.
Survey dapat dirancang untuk:
mengumpulkan variabel yang kemudian digunakan dalam segmentation analysis.
Mengapa Kualitas Responden Penting?
Segmentation:
sangat bergantung pada kualitas input.
Jika data:
tidak representatif,
cluster yang terbentuk:
juga dapat menyesatkan.
Sampling
Sampling harus mempertimbangkan:
- target population;
- sample size;
- geographic coverage;
- demographic distribution;
- screening criteria.
Tujuannya:
memastikan hasil research cukup relevan untuk population yang dituju.
Screening Respondent
Screening dapat memastikan responden:
benar-benar memiliki pengalaman dengan kategori.
Misalnya:
"Apakah Anda membeli kategori ini dalam 3 bulan terakhir?"
Pertanyaan seperti ini:
mengurangi irrelevant respondents.
Data Cleaning
Sebelum segmentasi:
data harus dibersihkan.
Masalah yang perlu diperiksa:
- duplicate;
- missing value;
- inconsistent answer;
- straight-lining;
- speeders;
- outlier.
Mengapa Data Cleaning Penting?
Algoritma segmentasi:
sangat sensitif terhadap data yang buruk.
Satu kelompok responden yang tidak relevan:
dapat menghasilkan segment yang sebenarnya tidak ada.
Segmentation Variables
Tidak semua variabel:
harus digunakan.
Variabel yang dipilih harus:
relevan terhadap business objective.
Misalnya untuk pricing:
WTP + price sensitivity + purchase frequency
lebih relevan daripada:
warna favorit.
Business Question First
Segmentasi sebaiknya dimulai dari:
business question.
Contoh:
"Segmen mana yang paling potensial untuk produk premium?"
Maka variabel:
WTP, income, quality preference, usage
menjadi penting.
Jangan Memulai dari Data
Kesalahan:
"Kita punya banyak data, mari kita cari segment."
Lebih baik:
"Keputusan apa yang ingin kita buat?"
Kemudian:
tentukan data yang dibutuhkan.
Cluster Analysis
Salah satu pendekatan kuantitatif:
cluster analysis.
Tujuannya:
mengelompokkan responden yang memiliki karakteristik serupa.
Namun:
hasil statistik tetap membutuhkan interpretasi bisnis.
K-Means
K-Means dapat digunakan untuk:
mengelompokkan observasi berdasarkan similarity.
Misalnya:
customer dikelompokkan berdasarkan:
- spending;
- frequency;
- WTP;
- satisfaction.
Kemudian terbentuk:
beberapa cluster.
Hierarchical Clustering
Hierarchical clustering:
membangun struktur kelompok berdasarkan similarity.
Pendekatan ini:
dapat membantu melihat hubungan antarcluster.
Latent Class Analysis
Dalam penelitian konsumen:
Latent Class Analysis dapat digunakan untuk menemukan kelompok laten berdasarkan pola response.
Pendekatan ini:
berguna ketika segmentasi didasarkan pada preference.
Factor Analysis
Factor analysis dapat membantu:
mereduksi banyak variabel menjadi beberapa underlying dimensions.
Misalnya:
10 atribut produk:
dapat dikelompokkan menjadi:
- functional value;
- emotional value;
- convenience.
Kemudian:
dimensions tersebut digunakan dalam segmentation.
Principal Component Analysis
PCA dapat membantu:
mengurangi dimensionality.
Namun:
interpretasi component harus tetap dikaitkan dengan konteks bisnis.
Segmentation Tidak Hanya Statistik
Cluster:
bukan strategy.
Setelah cluster terbentuk, perusahaan harus menjawab:
siapa mereka?
apa kebutuhannya?
berapa besar nilainya?
bagaimana menjangkaunya?
apa produk yang cocok?
Segment Profiling
Setiap segment perlu dibuat:
profile.
Contohnya:
Segment 1 – Value Seekers
- price sensitive;
- high promotion response;
- low WTP.
Segment 2 – Convenience Seekers
- high time sensitivity;
- moderate WTP;
- high digital adoption.
Segment 3 – Premium Seekers
- high quality preference;
- high WTP;
- lower price sensitivity.
Profil tersebut:
lebih actionable daripada sekadar "Cluster 1, 2, 3."
Naming Segment
Nama segment sebaiknya:
menggambarkan behavioral characteristic.
Hindari:
Cluster A.
Gunakan:
Value Seekers.
Dengan demikian:
lebih mudah dipahami oleh manajemen.
Segment Validation
Segment yang terbentuk harus:
divalidasi.
Pertanyaan penting:
- apakah segment berbeda secara meaningful?
- apakah ukurannya cukup?
- apakah dapat dijangkau?
- apakah memiliki economic value?
- apakah dapat ditargetkan?
Stable Segment
Segment yang baik:
relatif stabil.
Jika sedikit perubahan data:
segment langsung berubah total,
maka:
segmentation mungkin tidak robust.
Actionable Segment
Segment harus:
dapat di-action.
Misalnya:
"customer dengan preferensi warna biru"
belum tentu:
actionable.
Tetapi:
"premium customers dengan WTP tinggi dan preference terhadap quality"
lebih:
strategic.
Segment Differentiation
Perbedaan antarsegment harus:
meaningful.
Jika dua segment:
memiliki behavior hampir sama,
tidak perlu:
dipisahkan.
Segment Size
Segment yang terlalu kecil:
mungkin tidak economically viable.
Namun:
niche market
tetap dapat menarik jika:
margin dan WTP tinggi.
Niche Strategy
Niche strategy:
fokus pada kelompok kecil dengan kebutuhan spesifik.
Keuntungannya:
competition dapat lebih rendah.
Namun:
market ceiling juga lebih terbatas.
Mass Market Strategy
Mass market:
target lebih luas.
Keuntungannya:
scale.
Kekurangannya:
differentiation lebih sulit.
Multi-Segment Strategy
Perusahaan dapat:
melayani beberapa segment sekaligus.
Namun setiap segment:
membutuhkan value proposition yang relevan.
Product Differentiation
Segmentasi dapat menjadi dasar:
differentiated product.
Misalnya:
Basic.
Standard.
Premium.
Setiap tier:
memiliki value proposition berbeda.
Good-Better-Best
Model:
Good → Better → Best
dapat menangkap:
willingness to pay berbeda.
Namun tier harus:
memiliki meaningful differentiation.
Price Discrimination
Dalam konteks ekonomi:
segmentasi dapat memungkinkan perusahaan menerapkan harga berbeda berdasarkan willingness to pay.
Namun:
implementasinya harus mempertimbangkan legal, ethical, dan market constraints.
Versioning
Perusahaan dapat menciptakan:
product versions.
Misalnya:
Basic package
dan:
Premium package.
Tujuannya:
menangkap willingness to pay yang berbeda.
Segmentation dan Pricing
Customer segment:
memiliki elasticity berbeda.
Segment price-sensitive:
lebih responsif terhadap perubahan harga.
Segment premium:
mungkin lebih toleran terhadap price increase.
Karena itu:
pricing strategy dapat disesuaikan.
Segment-Specific Promotion
Promosi:
tidak harus sama untuk semua customer.
Value seeker:
discount.
Premium seeker:
exclusivity.
Convenience seeker:
speed.
Dengan demikian:
marketing efficiency dapat meningkat.
Segmentation dan Marketing ROI
Jika budget:
Rp1 miliar
dialokasikan secara merata:
belum tentu optimal.
Data segmentation dapat menunjukkan:
segment mana yang memberikan return tertinggi.
Segment-Level CAC
CAC:
dapat berbeda antarsegment.
Segment tertentu:
lebih mudah diperoleh melalui organic channel.
Segment lain:
membutuhkan paid advertising mahal.
Karena itu:
CAC harus dianalisis per segment.
Segment-Level CLV
CLV juga:
tidak sama.
Perusahaan sebaiknya menghitung:
CLV per segment.
Kemudian membandingkannya dengan:
CAC.
CLV/CAC Ratio
Secara sederhana:
CLV/CAC = Customer Lifetime Value ÷ Customer Acquisition Cost
Semakin tinggi ratio:
semakin menarik economics segment tersebut.
Namun:
benchmark harus disesuaikan dengan industry dan business model.
Segment Migration
Customer:
dapat berpindah segment.
Misalnya:
Value Seeker
menjadi:
Premium Seeker
ketika:
income meningkat.
Karena itu segmentation:
bukan selalu statis.
Life Stage
Perubahan:
- usia;
- income;
- pekerjaan;
- family status;
dapat mengubah:
preference.
Dynamic Segmentation
Dynamic segmentation:
memperbarui segment berdasarkan behavioral changes.
Ini lebih relevan untuk:
bisnis dengan customer interaction tinggi.
Segmentation dan Retention
Perusahaan dapat menemukan:
segment dengan churn risk tinggi.
Kemudian:
retention strategy
difokuskan pada segment tersebut.
Churn-Based Segmentation
Misalnya:
Low Risk
loyal + high usage.
Medium Risk
declining usage.
High Risk
low satisfaction + competitor consideration.
Segmentasi seperti ini:
lebih actionable.
Needs-Based vs Value-Based Segmentation
Needs-Based
Fokus:
apa yang customer butuhkan.
Value-Based
Fokus:
berapa economic value customer bagi perusahaan.
Keduanya:
dapat digabungkan.
Strategic Segmentation Matrix
Perusahaan dapat membuat:
| Segment | Need | WTP | CLV | Competition | Priority |
|---|---|---|---|---|---|
| A | High | High | High | Medium | High |
| B | High | Low | Medium | High | Medium |
| C | Low | Low | Low | High | Low |
Dengan framework ini:
targeting menjadi lebih objektif.
Segment Attractiveness Score
Score dapat mencakup:
- market size;
- growth;
- WTP;
- CLV;
- accessibility;
- competition.
Kemudian:
setiap segment dibandingkan.
Competitive Segment Analysis
Perusahaan juga perlu mengetahui:
competitor mana yang paling kuat di setiap segment.
Segment:
mungkin attractive,
tetapi:
competitor sangat dominan.
Maka entry:
membutuhkan differentiation yang kuat.
White Space
White space adalah:
area kebutuhan yang belum dilayani secara optimal.
Misalnya:
Segment premium
menginginkan:
convenience tinggi,
tetapi:
belum ada competitor yang memberikan keduanya.
Ini:
potential market opportunity.
Segmentasi dan Product Development
Data segmentasi dapat membantu:
menentukan feature priority.
Jika target:
convenience seekers,
maka:
simplicity lebih penting.
Jika target:
premium seekers,
maka:
quality dan exclusivity lebih penting.
Segmentasi dan Innovation
Innovation:
lebih efektif jika diarahkan pada kebutuhan segment tertentu.
Daripada:
membuat produk untuk semua orang.
Segmentasi dan Market Entry
Sebelum masuk market:
perusahaan dapat mencari segment dengan:
- unmet needs;
- high WTP;
- low competition.
Ini dapat menjadi:
beachhead market.
Beachhead Segment
Beachhead segment adalah:
kelompok awal yang paling strategis untuk dimenangkan.
Setelah berhasil:
perusahaan dapat memperluas ke segment lain.
Why Start Narrow?
Fokus pada segment:
membantu perusahaan mengoptimalkan resource terbatas.
Setelah product-market fit tercapai:
expansion menjadi lebih rasional.
Segmentasi dan Resource Allocation
Perusahaan memiliki resource terbatas:
- marketing budget;
- sales capacity;
- product team;
- capital.
Segmentasi membantu:
menentukan prioritas penggunaan resource.
Economic Principle
Secara ekonomi:
resource sebaiknya diarahkan ke penggunaan dengan expected return tertinggi.
Consumer segmentation:
membantu menemukan penggunaan tersebut.
Common Segmentation Mistakes
Terlalu Banyak Segment
Jika terdapat:
15 segment,
tetapi tidak ada perbedaan strategy,
maka:
segmentasi tidak berguna.
Hanya Menggunakan Demographic
Demographic:
tidak selalu menjelaskan behavior.
Tidak Mengukur Economic Value
Segment besar:
belum tentu profitable.
Tidak Melakukan Validation
Cluster:
belum tentu segment yang meaningful.
Tidak Menghubungkan dengan Strategy
Segmentasi:
harus menghasilkan action.
Research Design untuk Consumer Segmentation
Framework yang dapat digunakan:
Business Objective → Target Population → Variables → Survey → Data Cleaning → Segmentation → Profiling → Validation → Targeting
Business Objective
Tentukan:
keputusan apa yang ingin dibuat.
Target Population
Tentukan:
siapa yang ingin dipahami.
Variables
Pilih:
variabel yang relevan terhadap keputusan.
Survey
Gunakan:
jasa sebar kuisioner
untuk mendapatkan:
data primer.
Data Cleaning
Pastikan:
response quality.
Segmentation
Gunakan:
statistical method yang sesuai.
Profiling
Terjemahkan:
cluster menjadi consumer profile.
Validation
Pastikan:
segment meaningful dan actionable.
Targeting
Tentukan:
segment priority.
Positioning
Bangun:
value proposition untuk target segment.
Q&A Seputar Jasa Market Research dan Jasa Sebar Kuisioner
Apa itu consumer segmentation?
Consumer segmentation adalah proses membagi pasar menjadi kelompok konsumen berdasarkan karakteristik, kebutuhan, perilaku, preferensi, atau economic value yang relevan terhadap strategi bisnis.
Mengapa jasa market research penting untuk consumer segmentation?
Jasa market research membantu perusahaan memperoleh data mengenai demographic, behavioral, psychographic, needs, WTP, purchase frequency, dan customer value yang dapat digunakan untuk membentuk segmentasi berbasis evidence.
Apa peran jasa sebar kuisioner?
Jasa sebar kuisioner membantu memperoleh data primer dari target population melalui respondent screening dan pengumpulan informasi yang dirancang sesuai kebutuhan segmentation.
Apakah segmentasi berdasarkan usia sudah cukup?
Tidak selalu. Usia dapat digunakan sebagai salah satu variabel, tetapi kebutuhan dan perilaku konsumen dengan usia yang sama dapat berbeda secara signifikan.
Apa segmentasi yang paling baik?
Tidak ada satu metode yang selalu paling baik. Segmentasi harus disesuaikan dengan business objective, karakteristik data, dan keputusan yang ingin dibuat.
Apa itu needs-based segmentation?
Needs-based segmentation membagi konsumen berdasarkan kebutuhan atau problem utama yang ingin mereka selesaikan.
Apa itu value-based segmentation?
Value-based segmentation mengelompokkan konsumen berdasarkan economic value seperti spending, frequency, margin, retention, atau CLV.
Apakah segment yang paling besar harus menjadi target utama?
Tidak. Segment terbesar belum tentu memiliki WTP, margin, retention, atau CLV tertinggi.
Apa hubungan segmentasi dengan pricing?
Segment berbeda dapat memiliki willingness to pay dan price sensitivity berbeda. Informasi tersebut dapat membantu perusahaan merancang pricing architecture yang lebih sesuai.
Mengapa CLV penting dalam segmentasi?
CLV membantu perusahaan melihat nilai customer dalam jangka panjang sehingga target market tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah customer, tetapi juga economic contribution.
Apa hubungan CLV dan CAC?
Keduanya membantu menilai economics customer acquisition. Segment dengan CLV tinggi tetapi CAC juga sangat tinggi belum tentu lebih menarik daripada segment dengan CLV lebih moderat namun acquisition cost rendah.
Apakah hasil segmentasi bisa berubah?
Ya. Perilaku, income, kebutuhan, dan kondisi pasar dapat berubah sehingga segmentasi sebaiknya dievaluasi secara berkala.
Mengapa kualitas responden penting?
Karena segmentation sangat bergantung pada data input. Responden yang tidak relevan atau tidak representatif dapat menghasilkan segment yang tidak valid.
Apakah jumlah responden yang besar selalu lebih baik?
Tidak. Relevansi, representativeness, sampling design, dan response quality sama pentingnya dengan sample size.
Consumer segmentation bukan sekadar:
membagi konsumen berdasarkan usia, gender, atau lokasi.
Dalam pendekatan yang lebih strategis, segmentasi merupakan proses untuk memahami:
siapa customer yang memiliki kebutuhan berbeda,
berapa besar nilai ekonomi mereka,
apa yang membuat mereka membeli,
berapa willingness to pay mereka,
berapa biaya untuk mendapatkannya,
dan:
seberapa besar peluang perusahaan mempertahankan mereka dalam jangka panjang.
Melalui jasa market research, perusahaan dapat membangun segmentasi berdasarkan:
demographic,
behavior,
needs,
preference,
price sensitivity,
willingness to pay,
dan:
customer lifetime value.
Sementara jasa sebar kuisioner memungkinkan perusahaan memperoleh:
data primer yang relevan dari target population
sehingga segmentasi tidak dibangun berdasarkan asumsi internal semata.
Pada akhirnya, tujuan segmentasi bukan:
memiliki sebanyak mungkin kelompok customer.
Tujuan sebenarnya adalah:
menemukan kelompok yang memiliki perbedaan meaningful dan dapat menghasilkan keputusan bisnis yang lebih profitable.
Perusahaan yang mampu mengidentifikasi:
high-value segment,
emerging segment,
underserved segment,
dan:
high-potential niche
akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan:
product strategy,
pricing,
marketing allocation,
distribution,
dan:
positioning.
Dengan demikian, consumer segmentation berbasis data menjadi lebih dari sekadar aktivitas marketing. Ia merupakan:
alat untuk mengalokasikan sumber daya perusahaan kepada peluang pasar yang memiliki expected economic value paling menarik.